Mikul Duwur, Mendem Jero: Falsafah Jawa Yang Musti Dijunjung Elit PUAN dan PAN -->

Iklan Semua Halaman


MDO TV STREAMING


Mikul Duwur, Mendem Jero: Falsafah Jawa Yang Musti Dijunjung Elit PUAN dan PAN

Monday, August 9, 2021


            Oleh : Elidanetti, S.H., M.H., CPLC.  Kader PUAN dan PAN


Saya terus terang prihatin, dengan pernyataan Juru Bicara DPP PAN Viva Yoga Mauladi saudara ku Wk Ketum  yang mengungkit persoalan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bengkalis 2020. Padahal, hal itu tidak ada kaitannya dengan Gugatan yang saya ajukan.

Sama juga, saya merasa senang ketika Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, meminta para kader PAN tidak berdiam diri di tengah kondisi masyarakat menghadapi pandemi sehingga harus mempergunakan waktu untuk berbuat sesuatu. Ketum bahkan meminta para kader PAN harus ada empati dan membantu sesuatu yang bisa dilakukan, misalnya memberikan vaksin gratis, pemeriksaan swab antigen, dan membagikan sembako untuk masyarakat terdampak pandemi covid.


"Kalau kita tidak bisa membantu, paling tidak menjaga perbuatan dan jaga perilaku," kata Ketum dalam sebuah rilis media. 


Ini saya kaget dan sedih. Pernyataan ini, konteksnya ditujukan kepada Wakil Sekjen PAN Dr. Rosaline Rumaseuw dalam sebuah acara webinar mengusulkan agar perlu dibuat rumah sakit khusus pejabat negara. 


Selain itu, Ketua Fraksi PAN Saleh Partaonan Daulay dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi IX DPR RI dengan Menteri Kesehatan dan Kepala BPOM pada Selasa (13/7) mengatakan dirinya tidak ingin mendengar ada anggota DPR RI yang tidak mendapatkan ruang perawatan di ICU.



Memang benar, konteksnya menjaga Marwah partai dari tudingan miring publik yang belum memahami konteks pernyataan Ibu Dr. Rosaline Rumaseuw dan Bang Saleh Partaonan Daulay. Namun, melindungi nama partai tidak dengan cara meniadakan atau menghilangkan peran kader apalagi menjatuhkan wibawanya, di internal PAN semua kader paham betul peran dan eksistensi Bu Rosaline dan Bang Saleh yang banyak berbuat untuk partai. Peran keduanya, jauh lebih besar ketimbang peran Ibu Intan Fauzi yang menduduki jabatan  ketua DPP PUAN tanpa Kongres.



Ya, saya sangat tau selama ini Puan PAN tidak begitu giat Selindo semenjak Ketum Evi yang melakukan Muswil keliling, yang boleh dikatakan PUAN PAN baru mulai disenangi baru mulai dikenal apa itu Puan PAN, karna baru strukturisasi itupun mayoritas PUAN Selindo baru sampai DPD DPC nya belum semua. Mengajak perempuan berpolitik ini tidak mudah apalagi menanamkan kecintaan mereka kepada Partai PAN, aduh ini kita baru mulai malah diakiri dengan melukai hatinya ini seolah-olah dipaksakan dan seolah-olah dipolitisasi untuk kepentingan seseorang dan atau kelompok untuk PUAN.



Karena sangat-sangat Luar biasa sampai-sampai rapat DPP PAN memakai tempat di DPR RI untuk mendimisioner DPW, DPD PUAN SELINDO dan DPW DPD PAN. Bagaimana dengan BM PAN tidak dirapatkan di DPR RI, kan ada yang kudeta pula. Aduh tak jelas sungguh saya gagal Paham, ada pengecualian Ortom BM.



Dan di rapat DPP itu ditunjuk dari pengurus DPP untuk Riau, Irfan atas permintaan ibu INTAN, padahal tak seharus nya ibu Intan itu ditunjuk, kan kita ada AD ART PUAN dan ada POK yang kita harus pertegas berdiri sendiri. Nnamun tetap bersinergi dengan aturan Partai dan tidak sewenang-wenang.

Hal inilah sebagai dasar saya untuk menggugat. Ini Partai bukan Perusahaan, kalau perusahaan kita tau menempatkan diri demi dapat pekerjaan bayarpun kita mau. Ini cikal PAN melejit 2024 dan walau tidak kongres kan ada cara lain agar tidak ada konflik, karena kita semua merasa sudah berkorban, malah menimbulkan fitnah dengan dirampas tanpa keterangan dan alasan ini merusak kader.



Itu artinya, elit partai belum bisa menerapkan falsafah Jawa yang menyebutkan: Mikul Duwur Mendem Jero (Terjemahan : Memikul Tinggi, Memendam Dalam). artinya, kebaikan partai wajib dijunjung tinggi, aib partai wajib dipendam dalam, dalam satu rumah tangga anak nya salah atau bermasalah masak dimaki-maki di depan orang-orang yang lagi Arisan, ini sama dengan melihatkan bahwa rumah tangga yang lagi konfik, gimana peran ayah yang merangkul menyayomi memberikan saran petujuk atau jalan keluar agar anak-anak nya tak salah lagi sekalipun kesalahan yang disengaja apalagi tak sengaja dengan spontanitas nya ini menujukan rumah tangga tak bahagia, terlalu tipis hubungan kader dan tak bersahabat dengan kader tidak sesuai dengan yel-yel SAUDARA ku, dan tentang statement itu karena mungkin dia takut rakyat sakit pejabat sakit gimana negara.


Saya yakin ibu Dr. Rosaline Rumaseuw tujuan baik, mungkin tidak tepat penyampaiannnya. Ini yang harus kita luruskan bukan sebaliknya, karena bagaimanapun pemimpin wajib mengangkat wibawa dan kebaikan kader serta sedapat mungkin melindungi kader dengan menyembunyikan aib dan kekurangannya. Bukan malah dikorbankan demi penyelamatan partai, padahal masih ada jalan dan cara yang lebih Elegant yang dapat menyelamatkan partai tanpa perlu merendahkan marwah kader.



Begitulah, karakter pemimpin yang melindungi dan mengayomi. Begitulah, sikap Elit Partai yang menjaga wibawa Partai dengan tetap menyelamatkan muka kader.



Dalam kasus gugatan yang saya ajukan terhadap DPP PUAN dan DPP PAN, sebenarnya sejak awal saya menghindari penyelesaian melalui gugatan. Bahkan,  saya meminta menyarankan pada kuasa hukum agar melalui mekanisme mengirimkan Surat Permohonan Klarifikasi agar masalah internal PUAN ini tidak sampai menjadi konsumsi publik.  Namun, apa daya Surat Permohonan Klarifikasi dan Konfirmasi terkait status demisioner jabatan saya sebagai Ketua DPW PUAN Riau tidak ditanggapi.



Sebelum masuk pada menggugat, saya melalui kuasa hukum saya juga mengirimkan Somasi, dengan harapan agar ada tanggapan dari DPP PUAN dan DPP PAN, sehingga proses Gugatan di pengadilan dapat dihindari. Lagi-lagi, somasi juga tidak ditanggapi.



Sebagai Orang Riau, Saya seperti umumnya orang Sumatera yang tidak suka basa basi. Lebih baik berputih tulang daripada berputih mata. Atau kita tak akan pernah mau cari Musuh. Karena seribu kawan masih kurang, satu musuh kebanyakan. Namun sekali layar tekembang Surut Berpantang. Ini bukan sensasi atau apalah. Yang pasti degan perasaan tertekan, ini harus dilakukan. Saya kader rendahan, saya rakyat biasa, saya tidak siapa-siapa, tapi insya Allah saya bisa buat apa-apalah.



Secara khusus, orang Riau umumnya tak mau disebut  : 'Menang Sorak Kalah Bertanding. Pantang bagi orang Riau Memiliki Sifat Pecundang. Soal Kalah Menang itu hal lain, tetapi soal Perjuangan dan Konsfirmasi. Bukan seorang Pecundang, wajib disampaikan bagaimana pun itu walau jalannya sekalipun dengan cara mengajukan gugatan.



Begitulah, Gugatan diajukan bukan tanpa sebab. Tak ada asap tak ada api. Sampai dimana ujung perselisihan ini ? Semua berpulang kepada kearifan dan sifat bijak dari Elit PUAN dan PAN untuk menyelesaikan persoalan. Karna ini saya sadar, berperkara di Pengadilan ada potensi Menang jadi Arang Kalah jadi Abu.



Namun, penyelesaian musyawarah untuk mufakat, bukan sikap seorang ksatria berdamai lalu tetap sombong dengan prinsip dan keangkuhan. Seukur maka dikerat, Sesuai maka dipasang. Semua demi menjaga masa depan PUAN dan PAN. Itulah awal hal yang mendasar yang membuat saya tertekan. Alhamndulillah Ala Kulli Hal.

 

Salam.